Jalan itu, panjang, tenang, lapang...
Inginku laluinya
Jalan itu,
Sedamai air yang mengalir,
Selembut bayu yang melambai,
Perlahan-lahan ia menyampaikan salam,
Menyambut aku meniti di atasnya.
Jalan itu,
Titisan fisabilillah,
Ketenangan,
Kedamaian,
Ku harapkan,
Meskipun ranjau dan duri itu,
Di sisi jalan,
Kerna Jannah itu indah.
Jalan itu,
Tumpah titis-titis mutiara,
Menjadi senjata,
Menjadi kekuatan,
Segalanya untuk DIA.
Jalan itu,
Sabar,
Redha,
Pasrah,
Tawakal,
Ubat dan penawar,
Kerna DIA melihat
Menilai keringat usaha,
Hanya kepada DIA,
Serah segalanya.
Jalan fisabilillah,
Janji DIA pasti,
Syurga Firdausi para syahid,
Neraka jahanam para pendusta.
Isnin, 15 Disember 2014
Ahad, 14 Disember 2014
Rasulullah Yang Dirindui
Zamanmu Muhammad sudah berlalu,
Namamu masih melekat di hatiku,
Tak pernah bersua malah berjumpa,
Hanya doa dan selawat selalu padamu,
Kuharapkan syafaatmu di Mahsyar sana.
Sinar cahayamu tetap kami ingati,
Sepanjang zaman namamu tetap kami hargai,
Kami sayangi mukjizatmu Al-Quran yang suci,
Menjadi bukti setia diri kami,
Agama terpelihara, Islam agama kami,
Muhammad ku doakan kau selalu mendoakan kami.
Rasulullah SAW, begitu agung namamu,
Rindu bertemu dengan mu,
Rindu pada suri tauladan yang kau berikan,
Rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu,
Rindu pada kedamaian yang kau ciptakan,
Rasulullah SAW, rindu kami pada pemerintahanmu,
Rasulullah, rindu kami juga pada keadilanmu,
Kami sanjungi pada keimananmu dan ibadahmu.
Umatmu kini Muhammad sering alpa,
Anugerah Allah tidak diharga,
Hubungan denganNya tidak dijaga,
Juga hubungannya denganmu mereka alpa,
Ku berdoa pada Yang Esa,
Moga ada jalan pulang untuk mereka,
Bersama menghayati agama kita semua.
Muhammad SAW, aku rindu padamu,
Kasihku untukmu, selawat kukirim untukmu Muhammad,
Sebagai bukti sayangnya daku padamu,
Moga Allah kurnia dan merahmati hubungan ini,
Kau hargai, kusayangi lagi kuhormati.
Muhammad, moga suatu saat nanti,
Dapat kubertemu denganmu,
Dengan redha Allah padaku,
Moga dapat kita bersama di sana,
Syurga tempatmu juga moga untukku,
Muhammadku rindu padamu.
Namamu masih melekat di hatiku,
Tak pernah bersua malah berjumpa,
Hanya doa dan selawat selalu padamu,
Kuharapkan syafaatmu di Mahsyar sana.
Sinar cahayamu tetap kami ingati,
Sepanjang zaman namamu tetap kami hargai,
Kami sayangi mukjizatmu Al-Quran yang suci,
Menjadi bukti setia diri kami,
Agama terpelihara, Islam agama kami,
Muhammad ku doakan kau selalu mendoakan kami.
Rasulullah SAW, begitu agung namamu,
Rindu bertemu dengan mu,
Rindu pada suri tauladan yang kau berikan,
Rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu,
Rindu pada kedamaian yang kau ciptakan,
Rasulullah SAW, rindu kami pada pemerintahanmu,
Rasulullah, rindu kami juga pada keadilanmu,
Kami sanjungi pada keimananmu dan ibadahmu.
Umatmu kini Muhammad sering alpa,
Anugerah Allah tidak diharga,
Hubungan denganNya tidak dijaga,
Juga hubungannya denganmu mereka alpa,
Ku berdoa pada Yang Esa,
Moga ada jalan pulang untuk mereka,
Bersama menghayati agama kita semua.
Muhammad SAW, aku rindu padamu,
Kasihku untukmu, selawat kukirim untukmu Muhammad,
Sebagai bukti sayangnya daku padamu,
Moga Allah kurnia dan merahmati hubungan ini,
Kau hargai, kusayangi lagi kuhormati.
Muhammad, moga suatu saat nanti,
Dapat kubertemu denganmu,
Dengan redha Allah padaku,
Moga dapat kita bersama di sana,
Syurga tempatmu juga moga untukku,
Muhammadku rindu padamu.
Selasa, 9 Disember 2014
Ratib Cinta
Saat Ratib Cinta bergema,
Aku tertunduk kaku,
Memikul labuhan dusta dan dosa semalam,
Merenung mencari kembali lambaian kasihNya,
Setelah melewati silam yang kelam suram.
Saat Ratib Cinta bergema,
Titis-titis air mata rindu mengalir lesu,
Terhimpit antara keluh kesah dunia yang tidak pernah sudah,
Merenung mencari kembali lambaian kasiNya,
Setelah silam durjana mematikan hatiku.
Saat Ratib Cinta bergema,
Terpaku aku di hamparan sejadah rindu,
Meniti sepertiga malam yang kaku bisu,
Menanti sinar cahayaNya menyuluh,
Suram hati yang gersang tanpa kasihNya.
Ratib Cinta akan terus bergema,
Tanpa jemu dan lelah,
Menanti pengampunanNya,
Kerana aku tahu Dialah segalanya.
Ya Allah,
Andai ini Ratib Cinta terakhirku,
Ampunisegala khilaf semalamku,
Ya Rabbi.
Credit By : Harisah Zainul
Aku tertunduk kaku,
Memikul labuhan dusta dan dosa semalam,
Merenung mencari kembali lambaian kasihNya,
Setelah melewati silam yang kelam suram.
Saat Ratib Cinta bergema,
Titis-titis air mata rindu mengalir lesu,
Terhimpit antara keluh kesah dunia yang tidak pernah sudah,
Merenung mencari kembali lambaian kasiNya,
Setelah silam durjana mematikan hatiku.
Saat Ratib Cinta bergema,
Terpaku aku di hamparan sejadah rindu,
Meniti sepertiga malam yang kaku bisu,
Menanti sinar cahayaNya menyuluh,
Suram hati yang gersang tanpa kasihNya.
Ratib Cinta akan terus bergema,
Tanpa jemu dan lelah,
Menanti pengampunanNya,
Kerana aku tahu Dialah segalanya.
Ya Allah,
Andai ini Ratib Cinta terakhirku,
Ampunisegala khilaf semalamku,
Ya Rabbi.
Credit By : Harisah Zainul
Solusi
Dunia makin racau,
Manusia telanjang tanpa malu,
Sang adil dituduh penipu,
Maksiat itu menjadi perlu,
Oh duniaku !
Maka harus ditanya pada diri,
Apa tugas kita disini?,
Lalu tiada syak lagi,
Kita mesti baikinya kembali!
Tapi semuda itu?
Semudah mengetuk beduk?
Semudah mulut melepas lelah mengucap kata?
Semudah lidah belitmu menipu pada kertas?
Bagi hati yang tahu beratnya amanah ini,
Jiwa suci yang benar faham akibatnya,
Bersiap dengan zirah iman yang tegar,
Berbaris soldadu pada saf yang utuh.
Dan deruan nafas senantiasa ghairah,
Ingin melihat dunia ini damai,
Ghairah ini dipateri kuat pada sanubari,
Api tak mampu cairkannya,
Karat tak mampu gugatnya.
Lantas,
Mereka bekerja,
Mereka bertindak,
Sehabis upaya mereka,
(ku ulang) Sehabis upaya mereka.
Dengan tenaga,
Dan masa,
Dan darah,
Dan harta,
Dan nyawa,
Tertumpu pada satu matlamat.
Biar dihina orang menghina,
Dimaki orang yang memaki,
Mereka tetap keras-tidak berganjak.
Kita ?
Ah! Lemparkan ketepi sepatu penakutmu,
Biar berkaki ayam namun biarkan jiwamu bebas,
Sebebas helang di udara,
Tiada rasa takut pada ketinggian.
Dan,
Tempatkan dirimu dalam kelompok mereka.
Yang hati mereka hanya ada Tuhan yang Esa.
Dalam,
Setiap penjuru ruang oksigen hidup.
Itu solusi,
Itu jawapan,
Untuk membaiki dunia kembali.
Manusia telanjang tanpa malu,
Sang adil dituduh penipu,
Maksiat itu menjadi perlu,
Oh duniaku !
Maka harus ditanya pada diri,
Apa tugas kita disini?,
Lalu tiada syak lagi,
Kita mesti baikinya kembali!
Tapi semuda itu?
Semudah mengetuk beduk?
Semudah mulut melepas lelah mengucap kata?
Semudah lidah belitmu menipu pada kertas?
Bagi hati yang tahu beratnya amanah ini,
Jiwa suci yang benar faham akibatnya,
Bersiap dengan zirah iman yang tegar,
Berbaris soldadu pada saf yang utuh.
Dan deruan nafas senantiasa ghairah,
Ingin melihat dunia ini damai,
Ghairah ini dipateri kuat pada sanubari,
Api tak mampu cairkannya,
Karat tak mampu gugatnya.
Lantas,
Mereka bekerja,
Mereka bertindak,
Sehabis upaya mereka,
(ku ulang) Sehabis upaya mereka.
Dengan tenaga,
Dan masa,
Dan darah,
Dan harta,
Dan nyawa,
Tertumpu pada satu matlamat.
Biar dihina orang menghina,
Dimaki orang yang memaki,
Mereka tetap keras-tidak berganjak.
Kita ?
Ah! Lemparkan ketepi sepatu penakutmu,
Biar berkaki ayam namun biarkan jiwamu bebas,
Sebebas helang di udara,
Tiada rasa takut pada ketinggian.
Dan,
Tempatkan dirimu dalam kelompok mereka.
Yang hati mereka hanya ada Tuhan yang Esa.
Dalam,
Setiap penjuru ruang oksigen hidup.
Itu solusi,
Itu jawapan,
Untuk membaiki dunia kembali.
Isnin, 8 Disember 2014
Engkau Tempatku Bersandar
Terkadang aku rapuh,
Menyerah atas asaku,
Terkadang aku takut mencuba,
Kerana tidak siap untuk kalah.
Dalam sudutku dunia begitu keras,
Dalam pandangku dunia begitu luas,
Fatamorgananya tanpa batas,
Memupus semangat,
Menenggelamkan tanpa bekas.
Ku terdiam ditengah keramaian,
Ku berjalan di tengah kecepatan,
Ku berlari di tengah mesin-mesin kehidupan,
Tidak cukup saku untuk sebuah perubahan.
Benarkah demikian?
Ataukah sekadar angan-angan,
Menyerah sebelum berperang,
Mematikan asa sebelum berjuang.
Terlalu baik untukku,
Namun tidak untukMu,
Terlalu Wah untukku,
Namun tidak untukMu.
FirmanMu referensi motivasiku,
Sabda NabiMu jalan bimbinganku,
Untuk terus maju dan melangkah,
Menuju ke arah redhaMu.
BagiMu semua kecil,
BagiMu semua mudah,
BagiMu semua boleh,
Hanya kepadaMu aku berusaha dan berdoa.
Meski tertatih,
Ku memantapkan diri,
Meski letih,
Ku tegakkan jiwa dan raga ini.
Kerana ku yakin,
Engkau Maha Melihat,
Engkau Maha Mendengar,
Engkau Maha Mengabulkan,
Tidak sekadar yang aku inginkan.
Alhamdulillah syukur ku ucapkan,
Bismillah daya upaya ku gerakkan,
Ya Aliimu Yaa Khobir Yaa Fattahu Ya Qodir,
Anta a'lamu bi sirri wal a'alamiin.
Credit By : Aris Aziz
Menyerah atas asaku,
Terkadang aku takut mencuba,
Kerana tidak siap untuk kalah.
Dalam sudutku dunia begitu keras,
Dalam pandangku dunia begitu luas,
Fatamorgananya tanpa batas,
Memupus semangat,
Menenggelamkan tanpa bekas.
Ku terdiam ditengah keramaian,
Ku berjalan di tengah kecepatan,
Ku berlari di tengah mesin-mesin kehidupan,
Tidak cukup saku untuk sebuah perubahan.
Benarkah demikian?
Ataukah sekadar angan-angan,
Menyerah sebelum berperang,
Mematikan asa sebelum berjuang.
Terlalu baik untukku,
Namun tidak untukMu,
Terlalu Wah untukku,
Namun tidak untukMu.
FirmanMu referensi motivasiku,
Sabda NabiMu jalan bimbinganku,
Untuk terus maju dan melangkah,
Menuju ke arah redhaMu.
BagiMu semua kecil,
BagiMu semua mudah,
BagiMu semua boleh,
Hanya kepadaMu aku berusaha dan berdoa.
Meski tertatih,
Ku memantapkan diri,
Meski letih,
Ku tegakkan jiwa dan raga ini.
Kerana ku yakin,
Engkau Maha Melihat,
Engkau Maha Mendengar,
Engkau Maha Mengabulkan,
Tidak sekadar yang aku inginkan.
Alhamdulillah syukur ku ucapkan,
Bismillah daya upaya ku gerakkan,
Ya Aliimu Yaa Khobir Yaa Fattahu Ya Qodir,
Anta a'lamu bi sirri wal a'alamiin.
Credit By : Aris Aziz
Renungan Alam
Lihatlah pada alam jagat maya ini,
Lihatlah pada tampaknya dirimu,
Tidak terjangkau maha hebatnya ciptaan,
Tiada siapa yang mampu,
Kecuali Dia yang termampu,
Tika renungan itu memuncak,
Hati nurani mendetik rasa,
Bagai ingin bersatu dalam pelukan,
Pada indahnya alunan alam ini,
Terbentang sempurna tiada tepi,
Kerdilnya terasa diri,
Lantas memuji dan mensyukuri,
Pada nikmat yang mengalir di setiap denyut nadi,
Moga hamba menjadi pencinta hakiki,
Perindu pada pertemuan Illahi...
Lihatlah pada tampaknya dirimu,
Tidak terjangkau maha hebatnya ciptaan,
Tiada siapa yang mampu,
Kecuali Dia yang termampu,
Tika renungan itu memuncak,
Hati nurani mendetik rasa,
Bagai ingin bersatu dalam pelukan,
Pada indahnya alunan alam ini,
Terbentang sempurna tiada tepi,
Kerdilnya terasa diri,
Lantas memuji dan mensyukuri,
Pada nikmat yang mengalir di setiap denyut nadi,
Moga hamba menjadi pencinta hakiki,
Perindu pada pertemuan Illahi...
Hidayah Menanti Atau Mencari
"Wahai anakku, berimanlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Dia sahaja yang berhak disembah."
"Aku tidak akan menyembah Tuhanmu," jawab anaknya.
"Wahai anakku, marilah naik kapal bersama-sama kami, janganlah kamu kufur dan mengingkari perintah Allah S.W.T lagi. Janganlah kamu mengikuti orang-orang yang ingkar itu."
"Aku akan mendaki gunung yang tinggi itu sehingga aku terlepas daripada banjir besar ini," jawab anaknya.
"Sesungguhnya hari ini tidak ada seorang pun yang akan selamat kecuali yang mengikuti aku dan mereka yang dirahmati Allah sahaja,"
Selepas kata-kata itu, maka lenyaplah si anak daripada pandangan si ayah kerana ditenggelami banjir.
Begitulah kata-kata Kan'an yang penuh bonggak dan sombong kepada ayahnya Nabi Nuh. Dia adalah salah seorang yang ditenggelamkan dalam banjir oleh Allah atas kekufuran dan menolak dakwah ayahnya, betapa pilunya hati baginda saat itu sehingga baginda berdoa dan bertanya pada Allah "Ya Allah, bukankah Kan'an itu anak aku dan daripada keluarga aku sendiri," rintih Nabi Nuh. Baginda merayu kepada Tuhannya dengan berkata : "Wahai Tuhanku ! Sesungguhnya anakku itu daripada keluargaku sendiri dan bahawa janji-janjiMu adalah benar dan Engkaulah sebijak-bijak hakim yang menghukum dengan seadil-adilnya."
Firman Allah :
"Wahai Nuh! Sesungguhnya anakmu bukanlah daripada keluargamu (kerana dia telah memutuskan hubungan denganmu disebabkan kekufurannya), sesungguhnya amalannya bukanlah soleh, maka janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak tahu mengenainya. Sebenarnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. (71:46)
Jelas berdasarkan kisah di atas, baginda telah berusaha menyampaikan kebenaran tentang Islam, walau dakwah baginda ditolak bukan sahaja kaumnya, bahkan ahli keluarganya sendiri, orang yang rapat dalam hidup baginda. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, dakwahnya pada bapa-bapa saudaranya disambut dingin, malah dicaci, dikeji dan dihina. Orang yang lahir daripada darah daging sendiri sanggup melakukan kezaliman pada saudara mereka sendiri hanya kerana tidak mahu kebenaran (tentang Islam) disebarkan, sangat pilu, tetapi Allah Maha Mengetahui, segala sesuatu adalah milikNya, termasuk HIDAYAH...
"Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi, tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan Dia jualah yang lebih mengetahui akan orang-orang yang (ada persediaan) untuk mendapat hidayah petunjuk" (28:56)
Berdasarkan ayat di atas, saya menegaskan kepada 3 perkara :
1) Manusia tidak mempunyai daya memberi petunjuk (kebenaran) hidayah pada manusia lain walaupun mereka adalah orang-orang yang kita sayangi
2) Allah sahaja yang berkuasa memberi petunjuk (kebenaran) hidayah pada manusia yang Dia inginkan tidak kira rupa, umur, kaum dan sebagainya
3) Allah sahajalah yang Maha Mengetahui setiap hamba yang berusaha (terbuka hati) mencari hidayah Allah
Apa yang saya ingin katakan ya, benara, hidayah milik Allah, Allah pemegang setiap hati, namun kita disuruh berusaha, berusaha mencapai apa yang kita mahu. Kita boleh beri seribu alasan di dunia ini, "ah, nanti sudah tua aku berubahlah taubat, muda-muda mahu enjoy" "ah nanti-nantilah solat, mengaji Al-Quran, belum nak mati pun kan sihat ini, dah tua sakit nanti buatlah" persoalannya, yakin kah ESOK MASIH ADA, duduk dan renung, andai hari ini saat ini, apa yang anda lakukan sekarang adalah yang terakhir dalam hidup anda.. Bagaimana???
"Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan, dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan" (21:35)
Setiap kata-kata Allah adalah benar, dan apabila Dia mengatakan setiap bernyawa pasti mati, lalu bekalan apa yang kita bawa untuk melalui frasa selepas dunia iaitu alam barzakh (kubur) alam penantian sebelum hari kebangkitan (kiamat) dan hari perhitungan (akhirat).
Berusaha mencari hidayah Allah tidak susah, ramai yang mempersoalkan bagaiman mahu mencari sedang hati belum terbuka, hati belum terbuka adalah kerana sisa-sisa dosa semalam, umpama besi yang tidak digunakan, dibiarkan tidak disimpan, dijaga atau diubahsuai penggunaannya, lama-lama ia akan jadi rosak, buruk karat kerana berpanas dan berhujan, begitu juga hati manusia. Jika badan memerlukan nasu sebagai tenaga untuk bergerak, hati juga memerlukan tenaga untuk sentiasa bergerak melakukan kebaikan dan mencintai apa yang Allah cintai, makanannya mudah sahaja, amal kebaikan. Segala amal-amal kebaikan adalah penjana dan penggerak hati untuk terus melakukan kebaikan yang lain, asal ia dilakukan kerana Allah bukan untuk mendapat penghargaan manusia.
".... Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menhendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalah mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya." (13:11)
Jadi mulai hari ini bersihkanlah hati daripada dosa semalam, daripada berburuk sangka, khianat, dengki, kerana hati yang bersih mudah menerima tarbiyyah Illahi (dengan IzinNya) dan sentiasalah berbaik sangka pada Allah, tidak Allah tetapkan sesuatu dengan sia-sia. Semuanya bersebab dan pengakhirannya adalah sesuatu kebaikan.
"Dan sesungguhnya kesudahan keadaanmu adalah lebih baik bagimu daripa permulaannya." (93:4)
"dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberikanmu (kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat) sehingga engkau reda - berpuas hati." (93:5)
"Adapun nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau sebut-sebutkan (dan zahirkan) sebagai bersyukur kepadaNya" (93:11)
Jalan berusaha tidak sesusah jalan untuk beristiqamah, dan saat inilah akan berlaku pelbagai ujian Allah buat hambaNya, kerana nikmat syurga Allah itu luar biasa, jadi jalannya haruslah berliku, namun jangan khuatir duhai hati, Allah sentiasa bersama kita, dan jangan sesekali merasakan diri itu jahat, dan tidak layak ke syurga, kerana syurga, neraka itu juga milik Allah, siapa yang berada dalamnya semua dibawah pengetahuan Allah, bukan manusia, namun jangan pula merasakan diri terlalu mulia untuk masuk ke syurga Allah, kerana kebongkakan itu sekelip mata Allah boleh hapuskan amal kebaikan kita, tugas kita untuk berusaha melakukan kebaikan sehingga akhir nyawa, dan berdoa agar Allah memberi rahmatNya untuk kita masuk ke syurgaNya.
"Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (12:87)
Semoga pintu hidayah sentiasa terbuka luas buat kita dan Allah tidak menariknya semula, In Syaa Allah, amin Allahumma amin. Wallahualam~
Terima Kasih
"Aku tidak akan menyembah Tuhanmu," jawab anaknya.
"Wahai anakku, marilah naik kapal bersama-sama kami, janganlah kamu kufur dan mengingkari perintah Allah S.W.T lagi. Janganlah kamu mengikuti orang-orang yang ingkar itu."
"Aku akan mendaki gunung yang tinggi itu sehingga aku terlepas daripada banjir besar ini," jawab anaknya.
"Sesungguhnya hari ini tidak ada seorang pun yang akan selamat kecuali yang mengikuti aku dan mereka yang dirahmati Allah sahaja,"
Selepas kata-kata itu, maka lenyaplah si anak daripada pandangan si ayah kerana ditenggelami banjir.
Begitulah kata-kata Kan'an yang penuh bonggak dan sombong kepada ayahnya Nabi Nuh. Dia adalah salah seorang yang ditenggelamkan dalam banjir oleh Allah atas kekufuran dan menolak dakwah ayahnya, betapa pilunya hati baginda saat itu sehingga baginda berdoa dan bertanya pada Allah "Ya Allah, bukankah Kan'an itu anak aku dan daripada keluarga aku sendiri," rintih Nabi Nuh. Baginda merayu kepada Tuhannya dengan berkata : "Wahai Tuhanku ! Sesungguhnya anakku itu daripada keluargaku sendiri dan bahawa janji-janjiMu adalah benar dan Engkaulah sebijak-bijak hakim yang menghukum dengan seadil-adilnya."
Firman Allah :
"Wahai Nuh! Sesungguhnya anakmu bukanlah daripada keluargamu (kerana dia telah memutuskan hubungan denganmu disebabkan kekufurannya), sesungguhnya amalannya bukanlah soleh, maka janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak tahu mengenainya. Sebenarnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. (71:46)
Jelas berdasarkan kisah di atas, baginda telah berusaha menyampaikan kebenaran tentang Islam, walau dakwah baginda ditolak bukan sahaja kaumnya, bahkan ahli keluarganya sendiri, orang yang rapat dalam hidup baginda. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW, dakwahnya pada bapa-bapa saudaranya disambut dingin, malah dicaci, dikeji dan dihina. Orang yang lahir daripada darah daging sendiri sanggup melakukan kezaliman pada saudara mereka sendiri hanya kerana tidak mahu kebenaran (tentang Islam) disebarkan, sangat pilu, tetapi Allah Maha Mengetahui, segala sesuatu adalah milikNya, termasuk HIDAYAH...
"Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi, tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan Dia jualah yang lebih mengetahui akan orang-orang yang (ada persediaan) untuk mendapat hidayah petunjuk" (28:56)
Berdasarkan ayat di atas, saya menegaskan kepada 3 perkara :
1) Manusia tidak mempunyai daya memberi petunjuk (kebenaran) hidayah pada manusia lain walaupun mereka adalah orang-orang yang kita sayangi
2) Allah sahaja yang berkuasa memberi petunjuk (kebenaran) hidayah pada manusia yang Dia inginkan tidak kira rupa, umur, kaum dan sebagainya
3) Allah sahajalah yang Maha Mengetahui setiap hamba yang berusaha (terbuka hati) mencari hidayah Allah
Apa yang saya ingin katakan ya, benara, hidayah milik Allah, Allah pemegang setiap hati, namun kita disuruh berusaha, berusaha mencapai apa yang kita mahu. Kita boleh beri seribu alasan di dunia ini, "ah, nanti sudah tua aku berubahlah taubat, muda-muda mahu enjoy" "ah nanti-nantilah solat, mengaji Al-Quran, belum nak mati pun kan sihat ini, dah tua sakit nanti buatlah" persoalannya, yakin kah ESOK MASIH ADA, duduk dan renung, andai hari ini saat ini, apa yang anda lakukan sekarang adalah yang terakhir dalam hidup anda.. Bagaimana???
"Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan, dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan" (21:35)
Setiap kata-kata Allah adalah benar, dan apabila Dia mengatakan setiap bernyawa pasti mati, lalu bekalan apa yang kita bawa untuk melalui frasa selepas dunia iaitu alam barzakh (kubur) alam penantian sebelum hari kebangkitan (kiamat) dan hari perhitungan (akhirat).
Berusaha mencari hidayah Allah tidak susah, ramai yang mempersoalkan bagaiman mahu mencari sedang hati belum terbuka, hati belum terbuka adalah kerana sisa-sisa dosa semalam, umpama besi yang tidak digunakan, dibiarkan tidak disimpan, dijaga atau diubahsuai penggunaannya, lama-lama ia akan jadi rosak, buruk karat kerana berpanas dan berhujan, begitu juga hati manusia. Jika badan memerlukan nasu sebagai tenaga untuk bergerak, hati juga memerlukan tenaga untuk sentiasa bergerak melakukan kebaikan dan mencintai apa yang Allah cintai, makanannya mudah sahaja, amal kebaikan. Segala amal-amal kebaikan adalah penjana dan penggerak hati untuk terus melakukan kebaikan yang lain, asal ia dilakukan kerana Allah bukan untuk mendapat penghargaan manusia.
".... Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menhendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalah mereka sendiri), maka tiada sesiapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada sesiapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya." (13:11)
Jadi mulai hari ini bersihkanlah hati daripada dosa semalam, daripada berburuk sangka, khianat, dengki, kerana hati yang bersih mudah menerima tarbiyyah Illahi (dengan IzinNya) dan sentiasalah berbaik sangka pada Allah, tidak Allah tetapkan sesuatu dengan sia-sia. Semuanya bersebab dan pengakhirannya adalah sesuatu kebaikan.
"Dan sesungguhnya kesudahan keadaanmu adalah lebih baik bagimu daripa permulaannya." (93:4)
"dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberikanmu (kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat) sehingga engkau reda - berpuas hati." (93:5)
"Adapun nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau sebut-sebutkan (dan zahirkan) sebagai bersyukur kepadaNya" (93:11)
Jalan berusaha tidak sesusah jalan untuk beristiqamah, dan saat inilah akan berlaku pelbagai ujian Allah buat hambaNya, kerana nikmat syurga Allah itu luar biasa, jadi jalannya haruslah berliku, namun jangan khuatir duhai hati, Allah sentiasa bersama kita, dan jangan sesekali merasakan diri itu jahat, dan tidak layak ke syurga, kerana syurga, neraka itu juga milik Allah, siapa yang berada dalamnya semua dibawah pengetahuan Allah, bukan manusia, namun jangan pula merasakan diri terlalu mulia untuk masuk ke syurga Allah, kerana kebongkakan itu sekelip mata Allah boleh hapuskan amal kebaikan kita, tugas kita untuk berusaha melakukan kebaikan sehingga akhir nyawa, dan berdoa agar Allah memberi rahmatNya untuk kita masuk ke syurgaNya.
"Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (12:87)
Semoga pintu hidayah sentiasa terbuka luas buat kita dan Allah tidak menariknya semula, In Syaa Allah, amin Allahumma amin. Wallahualam~
Terima Kasih
Selasa, 2 Disember 2014
Aku Mampu Mengubah Dunia
Ketika lepas bebas di alam remaja
Impianku tidak mengenal batasan..
Aku ingin MENGUBAH DUNIA.
Bila usia meningkat dewasa
Dan aku semakin matang
Kusedari...
Rupanya dunia tidak akan berubah
Lalu aku bataskan jangkauan..
Memadailah jika..
Aku dapat MENGUBAH NEGARA
Namun ini juga tidak kesampaian.
Di usia senja..
Pilihan terakhirku
Untuk MENGUBAH KELUARGA
Dan mereka yang terdekat
Malangnya...
Mereka juga tidak mampu ku ubah.
Kini...
Di perbaringan menanti maut
Baru ku sedari..
(Mungkin buat kali pertama)
Andainya dahulu yang pertama ku ubah..
Adalah DIRI SENDIRI..
Dengan menunjukkan teladan yang baik
Pasti aku dapat MENGUBAH KELUARGA.
Lantas...
Dengan sokongan ..
Dan dorongan semangat mereka
Aku pasti mampu MENGUBAH NEGARA.
Dan siapa tahu...
Mungkin juga...
AKU MAMPU MENGUBAH DUNIA !!!
Impianku tidak mengenal batasan..
Aku ingin MENGUBAH DUNIA.
Bila usia meningkat dewasa
Dan aku semakin matang
Kusedari...
Rupanya dunia tidak akan berubah
Lalu aku bataskan jangkauan..
Memadailah jika..
Aku dapat MENGUBAH NEGARA
Namun ini juga tidak kesampaian.
Di usia senja..
Pilihan terakhirku
Untuk MENGUBAH KELUARGA
Dan mereka yang terdekat
Malangnya...
Mereka juga tidak mampu ku ubah.
Kini...
Di perbaringan menanti maut
Baru ku sedari..
(Mungkin buat kali pertama)
Andainya dahulu yang pertama ku ubah..
Adalah DIRI SENDIRI..
Dengan menunjukkan teladan yang baik
Pasti aku dapat MENGUBAH KELUARGA.
Lantas...
Dengan sokongan ..
Dan dorongan semangat mereka
Aku pasti mampu MENGUBAH NEGARA.
Dan siapa tahu...
Mungkin juga...
AKU MAMPU MENGUBAH DUNIA !!!
Tanya Hati, Jauh Atau Dekat Dengan Allah
Hidup ini umpama roda,
Adakalanya kita berjaya,
Adakalanya kita kecewa,
Adakalanya suka,
Adakalanya duka,
Adakalanya kita bahagia,
Adakalanya kita derita,
Ingatlah rakanku, setiap yang berlaku di dunia,
Pasti ada rahsia dan hikmahnya,
Yang pasti usah kita lupa,
Tingkatkan semangat dan teruskan berusaha,
Agar kejayaan ini milik kita
Hidup ini umpama sebuah lautan,
Bagaikan istana yang diimpikan,
Bahkan seperti jutawan yang punya ramai karyawan,
Yang pasti akan tiba hujungnya
Kita lalui kehidupan ini penuh rintangan.
Juga penuh dugaan serta cabaran,
Usahakan diri mencapai kecemerlangan,
Untuk mengapai impian,
Juga untuk menikmati udara yang percuma Tuhan berikan,
Agar diri lebih matang dan tidak lupakan Tuhan
Kehidupan suatu takdir dan ketentuan,
Kita sebagai makhluk-Nya yang harus mencorakkan,
Hidup ini hanya tumpangan,
Akhirat yang pasti kekal kita diketemukan,
Dosa, pahala yang membezakan,
Amal manusia yang telah kita lakukan,
Jadi, tanya hati?
Itukah soalan,
Ya benar, itu soalan yang memerlukan jawapan,
Baik atau buruk hanya kita yang mampu laksanakan dan jauhkan.
Moga Tuhan sentiasa memberikan nikmat kesihatan,
Agar diri ini sentiasa dekat dengan Tuhan.
Credit By : Zahra Nafizatul Nafisah
Adakalanya kita berjaya,
Adakalanya kita kecewa,
Adakalanya suka,
Adakalanya duka,
Adakalanya kita bahagia,
Adakalanya kita derita,
Ingatlah rakanku, setiap yang berlaku di dunia,
Pasti ada rahsia dan hikmahnya,
Yang pasti usah kita lupa,
Tingkatkan semangat dan teruskan berusaha,
Agar kejayaan ini milik kita
Hidup ini umpama sebuah lautan,
Bagaikan istana yang diimpikan,
Bahkan seperti jutawan yang punya ramai karyawan,
Yang pasti akan tiba hujungnya
Kita lalui kehidupan ini penuh rintangan.
Juga penuh dugaan serta cabaran,
Usahakan diri mencapai kecemerlangan,
Untuk mengapai impian,
Juga untuk menikmati udara yang percuma Tuhan berikan,
Agar diri lebih matang dan tidak lupakan Tuhan
Kehidupan suatu takdir dan ketentuan,
Kita sebagai makhluk-Nya yang harus mencorakkan,
Hidup ini hanya tumpangan,
Akhirat yang pasti kekal kita diketemukan,
Dosa, pahala yang membezakan,
Amal manusia yang telah kita lakukan,
Jadi, tanya hati?
Itukah soalan,
Ya benar, itu soalan yang memerlukan jawapan,
Baik atau buruk hanya kita yang mampu laksanakan dan jauhkan.
Moga Tuhan sentiasa memberikan nikmat kesihatan,
Agar diri ini sentiasa dekat dengan Tuhan.
Credit By : Zahra Nafizatul Nafisah
Ikhlas... Kucarimu Dimana Jua..
Keikhlasan nan tercalar
Pabila kesabaran mula menghindar
Lemah dan tunduk tanpa sedar
Bisikan syaitan nan tak pernah pudar
Menawan kalbu hamba nan ingkar.
Keikhlasan nan terhakis
Kerana hati tak bisa menangis
Pujukan dan rayumu wahai sang Iblis
Ketipisan imam tak bisa menepis.
Lalu...
Lerailah budi , lenyaplah jasa
Segunung budi selaut jasa
Ganjaran dinanti tak kunjung tiba
Ganjaran melayang di tingkap terbuka
Dosa menerpa di hati bertakhta
Budi dan jasa sia-sia semata
Ibadat dilaksana jerih segala.
Aduhai...
Sukarnya mencari keikhlasan
Perit dan getirnya menebal keimanan
Lalu aku kembali kepada pokok pangkal dan dasarnya
Di sinilah...
Kupohon pada-Mu walau dalam susah
Kupohon pada-Mu walau dalam payah
Ikhlas itu rahsia Allah
Mudah-mudahan padaku
Rahmat-Mu tercurah.
Pabila kesabaran mula menghindar
Lemah dan tunduk tanpa sedar
Bisikan syaitan nan tak pernah pudar
Menawan kalbu hamba nan ingkar.
Keikhlasan nan terhakis
Kerana hati tak bisa menangis
Pujukan dan rayumu wahai sang Iblis
Ketipisan imam tak bisa menepis.
Lalu...
Lerailah budi , lenyaplah jasa
Segunung budi selaut jasa
Ganjaran dinanti tak kunjung tiba
Ganjaran melayang di tingkap terbuka
Dosa menerpa di hati bertakhta
Budi dan jasa sia-sia semata
Ibadat dilaksana jerih segala.
Aduhai...
Sukarnya mencari keikhlasan
Perit dan getirnya menebal keimanan
Lalu aku kembali kepada pokok pangkal dan dasarnya
Di sinilah...
Kupohon pada-Mu walau dalam susah
Kupohon pada-Mu walau dalam payah
Ikhlas itu rahsia Allah
Mudah-mudahan padaku
Rahmat-Mu tercurah.
Sabtu, 29 November 2014
Generasi "Coca-Cola"
Generasi ini telah di "Coca-Cola" kan
persepsinya lemah
ruhnya kempis
apalah yang tinggal
Wajah kosong
ada semacam kegilaan
anak-anak muda bertopi ke belakang
99.99% yang tukang lepak
di kafe maya
Khusyuk dengan pelbagai jenama "games"
di talian chat meraban-raban
tak ke mana-mana
entahlah apa visinya
entahlah apa wawasannya
itulah wajah mutakhir.
Apakah mungkin generasi "Coca-Cola" ini
akan menjadi generasi Robanni?
Kalau dari jam 10.00 pagi sampai 10.00 malam
mata terpahat di pc
sesebentar menghirup "Coca-Cola"
azan Zohor berlalu
azan Asar berlalu
azan Maghrib berlalu
azan Isyak berlalu
waktu terus berlalu
seolah-olah tidak ada yang lain yang perlu
kecuali memainkan jari jemari di papan kekunci
mana mungkin akan tercerna generasi Robbani.
Apa akan jadi dengan generasi "Coca-Cola" ?
mereka tidak boleh membangun dunia
mereka mabuk (fana) bukan dalam lautan makrifah
kafe itu nanti sama tarafnya dengan video arcade
ia tak mengembangkan minda
ia tak melahirkan manusia
dengan kemanusiaan hakiki.
persepsinya lemah
ruhnya kempis
apalah yang tinggal
Wajah kosong
ada semacam kegilaan
anak-anak muda bertopi ke belakang
99.99% yang tukang lepak
di kafe maya
Khusyuk dengan pelbagai jenama "games"
di talian chat meraban-raban
tak ke mana-mana
entahlah apa visinya
entahlah apa wawasannya
itulah wajah mutakhir.
Apakah mungkin generasi "Coca-Cola" ini
akan menjadi generasi Robanni?
Kalau dari jam 10.00 pagi sampai 10.00 malam
mata terpahat di pc
sesebentar menghirup "Coca-Cola"
azan Zohor berlalu
azan Asar berlalu
azan Maghrib berlalu
azan Isyak berlalu
waktu terus berlalu
seolah-olah tidak ada yang lain yang perlu
kecuali memainkan jari jemari di papan kekunci
mana mungkin akan tercerna generasi Robbani.
Apa akan jadi dengan generasi "Coca-Cola" ?
mereka tidak boleh membangun dunia
mereka mabuk (fana) bukan dalam lautan makrifah
kafe itu nanti sama tarafnya dengan video arcade
ia tak mengembangkan minda
ia tak melahirkan manusia
dengan kemanusiaan hakiki.
Kenapa Lelaki, Bukan Ilahi ?
Aku hairan
Kenapa Ilahi pada bibirnya
Lelaki pada hatinya
Aku hairan
Cinta setianya tetap dihati
Walau lelaki berjalan pergi
Aku hairan
Cinta Ilahi sudah pasti
Sekejap di hati sekejap di kaki
Aku hairan
Ayat lelaki hadam terhafal
Ayat Ilahi tidak kau kenal
Aku hairan
Yang benar sudah kau tahu
Yang salah masih kau buru
Kenapa Ilahi pada bibirnya
Lelaki pada hatinya
Aku hairan
Cinta setianya tetap dihati
Walau lelaki berjalan pergi
Aku hairan
Cinta Ilahi sudah pasti
Sekejap di hati sekejap di kaki
Aku hairan
Ayat lelaki hadam terhafal
Ayat Ilahi tidak kau kenal
Aku hairan
Yang benar sudah kau tahu
Yang salah masih kau buru
Laungan Azan (AllahuAkbar)
Kalimah suci mengagungkan yang Maha Besar
Kalimah Ilahi luas tersebar
Untuk kita berhenti sebentar
Menunaikan solat dengan penuh sabar
Wahai manusia,
Janganlah leka, selalulah peka,
Untuk menunaikan tanggungjawab kita,
Menyembah yang Maha Esa,
Agar tidak mengundang murka yang Maha Kuasa,
Supaya selamat dari bala bencana di dunia,
Terhindar dari api neraka, dijamin Syurga selamanya
Wahai sahabat,
Patuhlah perintah, taatlah beribadat,
Untuk kita selamat dunia dan akhirat,
Untunglah mereka yang taat,
Kerana ingat Allah setiap saat,
Rugilah mereka yang sesat,
Kerana cintakan dunia dan lupakan akhirat ...
AllahuAkbar, AllahuAkbar, Lailahaillah ...
Kalimah Ilahi luas tersebar
Untuk kita berhenti sebentar
Menunaikan solat dengan penuh sabar
Wahai manusia,
Janganlah leka, selalulah peka,
Untuk menunaikan tanggungjawab kita,
Menyembah yang Maha Esa,
Agar tidak mengundang murka yang Maha Kuasa,
Supaya selamat dari bala bencana di dunia,
Terhindar dari api neraka, dijamin Syurga selamanya
Wahai sahabat,
Patuhlah perintah, taatlah beribadat,
Untuk kita selamat dunia dan akhirat,
Untunglah mereka yang taat,
Kerana ingat Allah setiap saat,
Rugilah mereka yang sesat,
Kerana cintakan dunia dan lupakan akhirat ...
AllahuAkbar, AllahuAkbar, Lailahaillah ...
Mutiara Hidup
Musuh utama manusia adalah dirinya sendiri,
Kegagalan utama manusia adalah kesombongannya.
Kebodohan utama manusia,
Adalah sifat menipunya.
Kesedihan utama manusia,
Adalah rasa iri hatinya.
Kesalahan utama manusia,
Adalah mencampakkan dirinya,
Dan orang lain.
Sifat manusia yang terpuji adalah rendah hati,
Sifat manusia yang paling diuji adalah semangatnya,
Kehancuran terbesar manusia adalah putus asa,
Harta utama manusia adalah kesihatan.
Hutang terbesar manusia adalah sifat berkeluh-kesah,
dan tidak memiliki kebijaksanaan,
Ketenteraman manusia adalah,
Suka bersedakah dan beramal.
Segala pekerjaan mudah untuk dilakukan kecuali satu hal,
Memahami apa adanya tanpa mempersoalkan 'kekurangannya'.
Sebagaimana diri kita, demikian juga makhluk lain,
Sebagaimana makhluk lain, demikian juga diri kita.
Dengan memikirkan mereka, dengan membandingkan mereka,
Tidak seharusnya kita saling berselisih, bertengkar,
Dan membunuh atau menyebabkan hal itu.
Kegagalan utama manusia adalah kesombongannya.
Kebodohan utama manusia,
Adalah sifat menipunya.
Kesedihan utama manusia,
Adalah rasa iri hatinya.
Kesalahan utama manusia,
Adalah mencampakkan dirinya,
Dan orang lain.
Sifat manusia yang terpuji adalah rendah hati,
Sifat manusia yang paling diuji adalah semangatnya,
Kehancuran terbesar manusia adalah putus asa,
Harta utama manusia adalah kesihatan.
Hutang terbesar manusia adalah sifat berkeluh-kesah,
dan tidak memiliki kebijaksanaan,
Ketenteraman manusia adalah,
Suka bersedakah dan beramal.
Segala pekerjaan mudah untuk dilakukan kecuali satu hal,
Memahami apa adanya tanpa mempersoalkan 'kekurangannya'.
Sebagaimana diri kita, demikian juga makhluk lain,
Sebagaimana makhluk lain, demikian juga diri kita.
Dengan memikirkan mereka, dengan membandingkan mereka,
Tidak seharusnya kita saling berselisih, bertengkar,
Dan membunuh atau menyebabkan hal itu.
Jumaat, 28 November 2014
Antara Sahabat, Cinta dan Rabb
Diam,
Sunyi, sepi,
Dalam kegelapan ku lihat tiada cahaya,
Menggapai angin malam yang sejuk dingin,
Aku keseorangan,
Menangis menitis airmata beku,
Bagai tiada siapa peduli,
Tapi tiada siapa ... kosong.
Diam,
Sunyi, sepi,
Tetap begitu,
Buta mata, buta hati,
Tiada senyuman terukir di bibir,
Tiada ilmu terpahat di dada,
Tiada sayang menerpa di jiwa,
Bagai jasad tiada rohnya,
Begitu aku,
Biar apa di nanti,
Siapaku untuk mentafsir.
Diam,
Sunyi, sepi,
Aku masih kaku,
Dalam diam,
Sayup-sayup namaku,
Dipanggil syahdu,
Hangat mula terasa di jari jemariku,
Lantas ku toleh,
Seluruh dekat ku terasa bernyawa,
Ku rentap sentuhan itu,
Setelah terpampang suatu wajah,
Seorang yang bergelar lelaki.
Diam,
Sunyi, sepi,
Tiada lagi,
Salam dihulur, persahabatan di minta,
Kusambut mesra, Hariku berseri,
Hidupku bermakna,
Alhamdulillah kupanjat kesyukuran,
Anugerah seorang insan,
Bernama sahabat.
Diam,
Sunyi, sepi,
Tiada lagi,
Berteman sahabat,
Tanpa kusedari cinta terpatri,
Bermunajat ku pada Ilahi,
Apakah semua ini,
Setakat khayalan atau hakiki.
Diam,
Sunyi, sepi,
Menerjah kembali,
Kala aku berteleku kepada-Mu,
Meminta petunjuk,
Kepada suatu keputusan,
Kepastian menjelma,
Untukmu sahabat,
Maaf ku pinta,
Aku belum bersedia,
Pada cinta yang sementara cuma,
Cintaku kini hanya pada ya-Rabbi,
Penciptaku yang Esa,
Yang memberi anugerah,
Mengenal erti Cinta dan Sahabat,
Terima Kasih Ya-Rabb.
Antara sahabat, cinta dan Rabb,
Kecintaanku kini hanya Pada-Mu.
Sunyi, sepi,
Dalam kegelapan ku lihat tiada cahaya,
Menggapai angin malam yang sejuk dingin,
Aku keseorangan,
Menangis menitis airmata beku,
Bagai tiada siapa peduli,
Tapi tiada siapa ... kosong.
Diam,
Sunyi, sepi,
Tetap begitu,
Buta mata, buta hati,
Tiada senyuman terukir di bibir,
Tiada ilmu terpahat di dada,
Tiada sayang menerpa di jiwa,
Bagai jasad tiada rohnya,
Begitu aku,
Biar apa di nanti,
Siapaku untuk mentafsir.
Diam,
Sunyi, sepi,
Aku masih kaku,
Dalam diam,
Sayup-sayup namaku,
Dipanggil syahdu,
Hangat mula terasa di jari jemariku,
Lantas ku toleh,
Seluruh dekat ku terasa bernyawa,
Ku rentap sentuhan itu,
Setelah terpampang suatu wajah,
Seorang yang bergelar lelaki.
Diam,
Sunyi, sepi,
Tiada lagi,
Salam dihulur, persahabatan di minta,
Kusambut mesra, Hariku berseri,
Hidupku bermakna,
Alhamdulillah kupanjat kesyukuran,
Anugerah seorang insan,
Bernama sahabat.
Diam,
Sunyi, sepi,
Tiada lagi,
Berteman sahabat,
Tanpa kusedari cinta terpatri,
Bermunajat ku pada Ilahi,
Apakah semua ini,
Setakat khayalan atau hakiki.
Diam,
Sunyi, sepi,
Menerjah kembali,
Kala aku berteleku kepada-Mu,
Meminta petunjuk,
Kepada suatu keputusan,
Kepastian menjelma,
Untukmu sahabat,
Maaf ku pinta,
Aku belum bersedia,
Pada cinta yang sementara cuma,
Cintaku kini hanya pada ya-Rabbi,
Penciptaku yang Esa,
Yang memberi anugerah,
Mengenal erti Cinta dan Sahabat,
Terima Kasih Ya-Rabb.
Antara sahabat, cinta dan Rabb,
Kecintaanku kini hanya Pada-Mu.
Kenapa Derhakai Ibumu ?
Aku senang melihat Bonda didepan mataku
Aku gembira duduk disampingnya tanpa berkata apapun
Berada dekatnya, sudah cukup rahmat Allah melimpah
Namun, dari kejauhan aku melihat
Seorang anak, dengan lantang meninggikan suara dihadapan ibunya
Aku tidak betah
Ingin sahaja aku memberikan buah pukul kepada anak tersebut
Namun, Islam tidak ajar cara begitu
Aku orang Islam, tidak boleh ikut nafsu semata
Aku melangkah ke arah ibu tua itu
Dia merintih , menanggis diperlakukan sedemikian
Kenapa Wahai Ibu Tua?
Anak aku tidak terima aku yang miskin hina
Sebab itu dia menghalau aku jauh dari hidupnya
AllahuAkbar.
Wahai anak yang sudah besar panjang
Syaitan apakah yang merasuk fikiranmu
Sehinggakan ibu yang banyak berjasa itu
Kau tendang jauh dari hidupmu
Apa jiwamu sudah besar berdepan dengan api neraka?
Kenapa pada ibumu kau lemparkan derhaka
Apa kau sudah lupa segala makan minum mu
Siapa yang bersusah payah memikirkan dan menyediakan
Kau sudah lupa siapa?
Kau sudah lupa pada ayat ini
Ayat cinta dari Allah
Pada ayat 17 surah al-Ahqaf
Aku sayang pada ibumu yang tua itu
Dia insan mulia bagi berbudi
Dan aku sangat kasihan padamu
Apakah hari esok kau masih menyedari kesilapanmu
Kenapa kau derhakai ibu tua itu
Apakah kerana engkau malu punya ibu seperti itu
Tua, miskin dan tidak setaraf denganmu.
Haha. Kau lupa, kau lagi hina
Aku menangis. Menangis kerana manusia seperti kau
Yang sanggup memperlakukan ibumu seperti itu
Kunci syurga bagimu, Allah sudah berikannya kepada ibumu
Engkau sudah buang ibumu
Maka dapatkah lagi engkau untuk memasuki syurga
Itu, pada ibumu yang kau katakan hina
Ada kunci di sana
Kenapa derhakai ibu
Kembalilah kepadanya
Kucup kedua belah kakinya
Sebelum kau terlambat melakukannya
Wahai anak dirasuk syaitan
Kenapa diderhakai ibu
Sedangkan kau punya jiwa yang kecil !
Hatiku Milik-Nya
Jemari kemas menggengam pena,
Melakar karya cinta pada-Nya,
Fikiran lemas tipuan buana,
Inilah puisi hatiku milik-Nya.
Hati tunduk mengabdikan diri,
Jiwa teguh ujian Ilahi,
Tarbiah nafsu didik peribadi,
Insan soleh tetamu syurgawi.
Mata melirik semesta duniawi,
Telingan mendengar zikir yang suci,
Akal mentafsir yang tersurat,
Naluri menyingkap yang tersirat.
Susuri jalan yang satu,
Redahi ujian dalam rahmat-Nya,
Semakin berpadu cahaya kasih-Nya,
Benarlah kini, hatiku milik-Nya.
Mencari cinta ku temui noktah,
Mencari rindu ku temui sendu,
Mencari kasih ku temui sedih,
Mencari gembira ku temui lara.
Kian tercipta denai cinta,
Bisa terlukis hamparan rindu,
Moga terlakar gelombang kasih,
Agar terpahat lukisan gembira.
Pena ini terus bertinta,
Menanti ilham menukil kata,
Hatiku ini tetap milik-Nya,
Dari azali hingga akhir nyawa.
Apa Yang Kau Cari
Apa yang kau cari
Dalam mimpi penuh ilusi
Dalam jiwa tanpa gusar
Tanya hati kemana pergi
Kerna jalan penuh liku dalam cabaran
Apa yang kau cari
Untuk subuh ynag mungkin terakhir kali
Tenangkan hati pergi hadapi Ilahi
Semurni hati jiwa mungkin tercarik lagi
Tenanglah diri kuat tepis godaan ini
Untuk apa-apa yang kau cari
Bernarkah itu yang kau kejari
Tipu daya iblis hanya jambatan rapuh bertahtakan intan
Kenali diri melalui perkenalan dengan Ilahi
Agar kau bisa mandiri
Agar kau teguh berdiri
Sembunyikan dukamu dalam senyum manis wajahmu
Kerna apa yang kau cari bukan untuk kau kesali
Apa yang kau cari itu untukmu di sana nanti
Sebagai pelindung dalam dakapan kasih Ilahi
Kejarlah apa yang kau cari
Dalam mimpi penuh ilusi
Dalam jiwa tanpa gusar
Tanya hati kemana pergi
Kerna jalan penuh liku dalam cabaran
Apa yang kau cari
Untuk subuh ynag mungkin terakhir kali
Tenangkan hati pergi hadapi Ilahi
Semurni hati jiwa mungkin tercarik lagi
Tenanglah diri kuat tepis godaan ini
Untuk apa-apa yang kau cari
Bernarkah itu yang kau kejari
Tipu daya iblis hanya jambatan rapuh bertahtakan intan
Kenali diri melalui perkenalan dengan Ilahi
Agar kau bisa mandiri
Agar kau teguh berdiri
Sembunyikan dukamu dalam senyum manis wajahmu
Kerna apa yang kau cari bukan untuk kau kesali
Apa yang kau cari itu untukmu di sana nanti
Sebagai pelindung dalam dakapan kasih Ilahi
Kejarlah apa yang kau cari
Selasa, 21 Oktober 2014
Harga Setuang Cinta
Tenggelam relung dadaku dalam syahdu,
Titis mutiara jatuh berderai derai,
Mengukur layakkah diri menerima nikmat cinta sejati darimu Ya Tuhanku,
Dengarlah bisikan doaku dalam sujud sembah pada-Mu...
Aku yang menghitung luka-luka parah,
Menyelar tiap ketenangan pada angin lalu,
Aku yang mengadu domba pada alam,
Menyaksikan sang bulan memuntahkan darah merah...
Tempiasnya mengukir parut-parut duka,
Kebeningan malam mencucuk sanubari,
Dalam dakapan rindu aku tersungkur jatuh tersembam,
Meraba raba mencari erti sebuah kasih sayang...
Apakah ini harga yang harus kubayar untuk setuang cinta dari-Mu Tuhanku?
Kehibaan aku merangkak menjilat noda yang menjerat jiwa,
Pada parah yang mencengkam hati nan luluh,
Dalam menghidang cinta buat penciptaku...
Titis mutiara jatuh berderai derai,
Mengukur layakkah diri menerima nikmat cinta sejati darimu Ya Tuhanku,
Dengarlah bisikan doaku dalam sujud sembah pada-Mu...
Aku yang menghitung luka-luka parah,
Menyelar tiap ketenangan pada angin lalu,
Aku yang mengadu domba pada alam,
Menyaksikan sang bulan memuntahkan darah merah...
Tempiasnya mengukir parut-parut duka,
Kebeningan malam mencucuk sanubari,
Dalam dakapan rindu aku tersungkur jatuh tersembam,
Meraba raba mencari erti sebuah kasih sayang...
Apakah ini harga yang harus kubayar untuk setuang cinta dari-Mu Tuhanku?
Kehibaan aku merangkak menjilat noda yang menjerat jiwa,
Pada parah yang mencengkam hati nan luluh,
Dalam menghidang cinta buat penciptaku...
Khamis, 9 Oktober 2014
Kasihku Dalam Diam
Di sudut sepi,
Aku termenung sendiri,
Hati bertalu lontarkan pertanyaan,
Otak ligat mencari jawapan.
Hati ini telah dicuri,
Hati ini dipaut sepi,
Aku gusar ianya satu dosa,
Mencintainya tika aku mencari keredhoanNya.
Ya Allah,
Berkali engkau pertemukan kami,
Berlalu berselisih bahu sudah selalu,
Engkau tetapkan kami di suatu tempat,
Namun peluang itu kami masih asing.
TakdirMu melebihi segalanya,
Kami bertemu jua akhirnya,
Mula berkenalan dan jatuh hati,
Ianya berlaku tanpa kami minta,
Ianya jauh tersimpan di sudut hati.
Aku merindui, aku menangisi,
Aku mengadu padaNya memohon kekuatan,
Mencintai dalam diam amatlah perit,
Rasanya seperti ditoreh dengan belati.
Dia menolak aku dengan sopan,
Mencari cintaMu dahulu sebagai alasan,
Aku tersenyum walaupun terkilan,
Sesungguhnya Allah lebih Mengetahui.
Aku bersyukur dengan rasa ini,
Aku bersyukur dipertemukan dengan dia,
Dia membuat aku mencariNya,
Dia membuat aku lebih cintakanNya.
Hatiku tenang saatku mengadu padaNya,
Sesungguhnya Dia sebaik-baik pendengar,
Andai dia jodohku,
Pertemukan kami semula bila tiba masanya.
Amin.
Langgan:
Catatan (Atom)



